Rabu, 28 September 2016

Puncak Damar adalah salah satu spot objek wisata alam yang berada di Dusun Pakualam Desa Darmaraja Kabupaten Sumedang. Di tempat wisata ini kita akan disuguhkan pemandangan alam yang sangat indah di tengah suasana hutan yang masih alami. Secara pengelolaan, tempat wisata ini secara hak dikelola oleh Perum Perhutani.  Sekitar 2 bulan yang lalu saya bersama teman saya melakukan acara camping ceria di area pesisir bendungan Jatigede. Menurut keterangan dari petugas disana, kami adalah pengujung pertama yang melakukan camping, semoga untuk kedepannya pengelolaan di tempat wisata ini lebih maksimal lagi agar pengunjung yang berkunjung kesana lebih banyak lagi. Harapan saya semoga Kabupaten Sumedang bisa menjadi destinasi wisata baru di Jawa Barat bahkan Indonesia dan tak lupa peran pemerintah untuk terus memperbaharui fasilitas yang ada. Tak lupa kami sampaikan untuk semua yang berkunjung ke tempat wisata dimanapun itu, untuk selalu menjaga kebersihan agar kelestarian alam tetap terjaga dan bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti. 
Peta Lokasi Puncak Damar, Baros, Jatigede

Sedikit foto dari kami semoga menjadi referensi buat teman teman. Salam lestari !




















Terima kasih sudah mau mampir di blog yang sederhana ini. Sampai ketemu lagi di perjalanan kami selanjutnya mengexplore alam Indonesia.

Senin, 19 September 2016

Ini pendakian ke tiga aku ke Gunung Ciremai. Walaupun sebelumnya udah pernah kesini, tetapi di setiap perjalanannya selalu memberikan cerita dan suasana yang berbeda. Pendakian kali ini beranggotakan 6 orang. Ada Aku, A Dede, Tian, Sinta, Dinita, dan A Nana. salah satunya masih dibilang pemula (nama yang disebut terakhir) hehehe. Cuaca pendakian kali ini sangat mendukung, walaupun sempet turun hujan dan itupun cuma sebentar. Sekarang aku cuma mau share beberapa foto dan semoga menjadi referensi temen temen yang lain kalo mau muncak ke Gunung Ciremai. 




















See you again kawan !!!

Selasa, 03 Februari 2015

SEKILAS PUNCAK MT. PAPANDAYAN ( TEGAL ALUN )




Rabu, 21 Januari 2015


Mendaki gunung jangan dianggap enteng. Perlu persiapan khusus. Menganggap remeh persiapan bisa berakibat fatal. Kalau Anda ingin mendaki gunung, cobalah simak tips di bawah ini.

1. Mengecek Dahulu Lokasi Pendakian. Sebelum untuk memulai pendakian Anda disarankan mengecek dahulu lokasi pendakian dan mengetahui track pendakian. Apakah keadaan gunung saat itu dalam kondisi baik untuk didaki atau kondisi gunung siaga satu dan tidak layak untuk didaki. Mengecek track pendakian melalui internet atau pun bertanya kepada teman yang sudah hafal track pendakian itu juga penting dilakukan agar kita siap menghadapi track yang akan kita lalui nanti.

2. Olahraga Minimal Sebulan Sebelum Pendakian. Olahraga sebelum memulai pendakian sangat  penting untuk dilakukan karena biasanya untuk mendaki gunung dibutuhkan stamina yang kuat. Medan yang tidak biasa, semakin tinggi lokasi, semakin tipis oksigen yang tersedia untuk mendaki gunung.

3. Bawa Barang yang Penting Saja. Pilihlah barang apa saja yang penting untuk dibawa ketika naik gunung. Membawa barang yang belum tentu digunakan di gunung, hanya akan menambah beban tas dan bisa menghambat pendakian, misalnya boneka.

4. Sleeping bag dan Tenda. Untuk perlengkapan tidur diperlukan tenda dan sleeping bag . Bawalah tenda yang baik dan sarung tidur (sleeping bag). Sleeping bag mampu menutupi seluruh tubuh dengan baik, kecuali bagian kepala atau muka. Hawa dingin dari tanah yang kita tiduri sering kali masih terasa, kendati sudah memakai kantung tidur.
Untuk menanggulanginya, tanah yang ditiduri dialasi dulu dengan plastik atau daun-daunan. Matras yang banyak dijual di pasaran akan baik sekali bila digunakan sebagai alas. Matras yang praktis adalah yang bisa dilipat dan digelembungkan dengan tiupan mulut. Matras yang terbuat dari karet busa juga pilihan yang baik karena kemampuannya menyekat hawa dingin dari tanah.

5. Membawa Jaket/Pakaian Hangat. Jaket atau pakaian hangat yang berbahan katun atau wol adalah pilihan baik untuk mendaki gunung. Dan ingat jangan membawa jaket atau pakaian yang berbahan jeans karena bahan ini memang nampak kuat dan praktis, tetapi sulit sekali kering apabila basah.

6. Memakai Ransel (carrier). Carrier atau tas besar adalah perlengkapan utama dalam pendakian. Carrier ini berguna untuk menampung seluruh perbekalan dan peralatan yang akan di bawa dalam pendakian.

7. Memakai Sepatu Hiking. Kegiatan utama dalam mendaki gunung adalah berjalan dan perlindungan terhadap kaki harus benar-benar diperhatikan. Kaki harus terlindung agar tidak terluka di sepanjang perjalanann. Sepasang sepatu hiking sangat tepat untuk perlindungan kaki saat pendakian. Jangan memilih sepatu yang mudah tergelincir, misalnya karena solnya dari kulit.  Sepatu hiking atau sepatu tentara yang banyak di jual di toko sepatu merupakan pilihan yang baik untuk mendaki gunung.

8. Perlengkapan Memasak dan Makanan. Perlengkapan memasak dan makanan yang cukup adalah salah satu perlengkapan yang harus di bawa pada saat melakukan pendakian. Memasak dengan kayu bakar memang dapat dilakukan tapi sangatlah sulit memasak menggunakan kayu bakar di gunung. Sebaiknya pendaki membawa kompor yang praktis untuk digunakan seperti kompor gas portable. Pendaki sebaiknya membeli beberapa cadangan isi ulang yang cukup untuk kompor gas portable. Sebagai wadah untuk memasak, pilihlah panci yang kecil dan praktis.

9. Perlengkapan obat P3K. Perlengkapan obat P3K adalah perlengkapan yang harus dibawa pendaki. Sebaiknya bawalah peralatan medis, seperti obat sakit kepala, obat anti mabuk, minyak angin obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

10. Jas Hujan. Alat ini sangat diperlukan terutama untuk mengantisipasi jika turun hujan saat pendakian. Sebab seringkali cuaca di gunung kurang bersahabat dan turun hujan yang cukup lebat.
Terakhir, perhatikan kesiapan mental Anda sedang fit atau tidak untuk melakukan pendakian. Juga perhatikan kesiapan fisik Anda. Selamat mendaki gunung!



Source : http://travel.kompas.com

Kamis, 15 Januari 2015

























Ini pengalaman pertama saya beserta teman-teman untuk mendaki Gunung Papandayan, Garut - Jawa Barat. Tim kami hanya beranggotakan 5 orang (awalnya lebih dari 10 orang, tapi banyak yang ga jadi ikut), meskipun hanya berlima kami tetap semangat dan tetap pada rencana untuk berangkat. Bissmillah aja mudah-mudahan perjalanan Sumedang - Garut selalu ada dalam lindungannya, ALLAH SWT.

Berikut Catatan Perjalanannya :

31 Desember 2014 

Tepat diakhir tahun 2014 saya dan teman-teman berencana untuk melakukan pendakian ke Gunung Papandayan. pukul 16.00 saya dan tim melakukan berbagai persiapan dari mulai perlengkapan pribadi sampai logistik untuk perbekalan dan kebutuhan kita selama berada dipuncak Gunung. Sore itu hujan cukup deras, namun tak menyulutkan semangat kami untuk tetap mendaki. 

18.00 WIB (selepas sholat maghrib)
Saya mulai menghubungi teman-teman untuk berkumpul terlebih dahulu di rumah saya, sambil mengecek kembali barang-barang yang akan dibawa supaya tidak kurang dan tidak berlebihan. setelah semuanya dirasa cukup dan telah siap untuk mendaki saya coba menelpon kang Dede. Dia bagian dari tim kita yang dengan ikhlas menawarkan mobilnya untuk dipakai menuju Papandayan. Setelah lama menunggu ternyata kang Dede baru tiba jam 9 malam, saya pun langsung menyusun tas-tas besar dan berat tersebut kedalam bagasi mobil. Cuaca saat itu sangat dingin namun langit tidak menurunkan air ujan seperti pada sore harinya. Saya dan teman-temanpun memutuskan untuk tidak langsung berangkat, melainkan untuk mengatur strategi dan membagi barang bawaan agar semuanya sama rata, sambil menikmati hangatnya kopi. Jam pun menunjukan pukul 23.15, Saya langsung mengkomandoi pasukan untuk segera masuk kedalam mobil dan tak lupa kami berdo'a agar diberikan kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan berangkat dan juga perjalanan pulang. 

01 Januari 2015

01.30 WIB

Akhirnya kami sampai di pusat kota Garut, saat itu saya langsung mengarahkan kang Dede untuk langsung  menuju Mesjid Agung Garut untuk beristirahat. Kami pun tidur sejenak di dalam mobil (walau berdempetan tapi tetap nyaman, secara diluar cuacanya dingin banget, masbroo). Adzan subuh pun berkumandang, kami pun bergegas untuk mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. selepas sholat subuh, kami memesan lima gelas kopi di warung depan mesjid, sambil ngobrol sama penjual kopi dan mencari informasi arah jalan menuju Papandayan. Dan katanya perjalanan menuju Papandayan yang terletak di Kecamatan Cisurupan itu hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam saja, berarti jarak antara pusat kota dengan Gunung Papandayan lumayan dekat.

06.30 WIB

Kami meninggalkan Mesjid Agung Garut dan melanjutkan perjalanan ke Cisurupan, sekitar lima belas menit dari pusat kota tadi saya langsung dibuat kagum dengan apa yang saya lihat. Subhanallah sungguh indah ciptaanmu ya rabb, seketika saya mengucapkannya atas semua keindahan yang telah diciptakan. Perjalanan ini tidak akan membosankan, bahkan sangat mengesankan. Pukul 07.10 kami sampai di pertigaan Cisurupan - Cikajang, dari sini jalan mulai mengecil dan mulai bergelombang banyak lubang. Akhirnya perjalanan berkendara kami berakhir di pelataran parkir Gunung Papandayan, yang menurut informasi lokasi ini dinamakan camp david. kami berlima pun langsung mendaftarkan diri di pos pengelola untuk melakukan pendakian, dengan biaya 7.500/orang.

08.45 WIB

Kantin Camp David

Setelah sarapan nasi goreng di kantin yang tersedia di camp david, kami bersiap-siap mengeluarkan perlengkapan dari bagasi mobil. Setelah semuanya siap kami memulai perjalanan dengan diawali do'a terlebih dahulu.Tak lupa juga untuk ngeksis dan mengabadikan moment yang ada hehehehehe......
 

Setelah semua ritual dilakukan, kami pun melangkahkan kaki yang pertama untuk mencapai puncak Papandayan, entah berapa ribu langkah untuk mencapai puncak, yang pasti lebih baik menikmati tahap demi tahap agar waktu dan jarak tidak terasa begitu berat.


Dan akhirnya kami sampai di satu spot yang menjadi daya tarik pengunjung, ya kawah emas Papandayan. bau belerang yang sangat menyengat perlahan mengganggu nafas kami yang mulai ngos-ngosan.

Kawah disini berbeda dari kawah gunung yang pernah saya lihat, tidak seperti gunung tangkuban perahu yang membentuk danau ditengahnya. Di Papandayan hanya berupa kepulan asap tebal dan bau belerang yang menyengat. Tapi inilah kelebihan Gunung Papandayan dimana kawah utama bisa langsung dilihat dari kedekatan oleh pengunjung. 

(Disebut kawah emas karena bebatuan yang ada disekitar kawah utama berwarna emas yang diakibatkan dari zat belerang yang mengendap)
 
 
Perjalanan kami kurang lebih satu jam setengah, setelah melewati pos pertama guberhood kami langsung mengambil rute lurus menanjak dan sangat terjal. Setelah kami berhasil melewati medan yang lumayan menguras tenaga itu akhirnya kami sampai di salah satu spot terindah dan menjadi tujuan bagi pendaki untuk berfoto ria. Ya, inilah yang dinamakan Hutan Mati, cuma pohon dan ranting-ranting kering saja yang terlihat disini dihiasi kepulan asap tebal dan pasir yang putih. Dan saya pun tak mau ketinggalan dengan moment yang indah ini.
 Disini kami mendapatkan waktu istirahat yang lumayan cukup untuk mengisi kembali tenaga dan energi kami yang terkuras. Kami pun memanaskan air untuk membuat minuman hangat dan memakan beberapa potong roti.
Kami pun tidak mau membuang waktu dan diam terlalu lama, dan segera melanjutkan perjalan lagi menuju pondok salada, dimana tempat ini adalah tempat yang dinilai aman untuk mendirikan camp. Karena pihak pengelola melarang para pendaki untuk mendirikan camp diluar batas aman, termasuk puncak utama.
(Bisa seuri deui tos di eusian mah...hehehehe)

Sekarang perjalanan menuju pondok salada ini dibilang stabil (datar), bahkan kami sering menemui turunan. Di track ini kami sangat enjoy dan sesaat bisa memotret moment yang didapatkan.
 
13.10 WIB
 
Sekitar setengah jam perjalanan kami melewati hutan, akhirnya kami sampai di pondok salada. Saya tercengang ketika melihat puluhan tenda telah berdiri disana. Dala hati berkata "ini gunung apa bumi perkemahan ?". Saya dan tim pun langsung mencari lahan yang masih kosong dan cukup untuk mendirikan dua buah tenda. Setelah kesana kemari mencari lahan kosong, akhirnya kami menemukan tempat yg sangat strategis, karena sangat dekat dengan sumber air bersih. Kami semua mendirikan tenda dan instirahat. Tak lupa kami juga tetap menjalankan kewajiban sebagai umat muslim untuk menunaikan sholat dzuhur, walau diatas gunung, bukan beralaskan karpet lembut dan atap plafon. Ini hanya beralaskan tanah dan beratapkan langit yang begitu luas membentang.
 
 Allah Yang Memiliki Semua Keindahan Ini, Bersyukurlah Hanya Kepadanya



Menyantap perbekalan. dari kiri (Adi, Pepen)

15.00 WIB 

Menjelang sore hujan gerimis mulai turun, cuaca mulai sangat dingin. Kami semua lebih memilih berada didalam tenda dan tidur terlelap. Saya terbangun dan melihat jam menunjukan jam 16.35 WIB. Saya membangunkan yang lainnya dan bergegas menuju sungai kecil untuk cuci muka dan mengambil air wudhu. selepas sholat saya dan tim mulai memasak untuk makan dan membuat kopi. Ditengah kehangatan kopi dan makanan kami tak lupa untuk mempersiapkan rute dan stok perbekalan untuk perjalanan menuju puncak. Tanpa terasa waktu telah manunjukan pukul 21.30, suasana mulai terasa sepi dan malam semakin dingin saja. Saya pun mempersiapkan sleeping bad dan doubble jacket untuk menjaga kehangatan tubuh saat tidur.

02 Januari 2015

05.15 WIB

Saya terbangun ketika alarm hp saya berbunyi, dan membangunkan teman-teman saya. Saya langsung tertuju pada sungai kecil sebagai satu-satunya sumber air bersih di atas gunung,  setelah sholat kami membuat kopi panas dan beberapa makanan ringan sebagai cemilan. 
 

07.30 WIB

Kami segera membongkar tenda dan packing kembali barang perlengkapan yang terurai didalam tenda. Setelah semuanya selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun. Dimana lokasi tersebut merupakan padang bunga endelweiss (Menurut informasi Padang endelweiss Mt. Papandayan ini merupakan spot endelweiss terbaik ketiga di Indonesia). Perjalanan menuju tegal alun ini sangat terjal, namun masih bisa berjalan karena terbantu dengan akar pepohonan. Sekitar dua jam setengah kami sampai di tegal alun dengan hamparan bungan endelweiss nya (Bunga Khas Puncak Gunung).
 
Edelweiss jawa (Javanese edelweiss)
 
 
Sekitar satu jam kami berada di tegal alun, dan menjadi tempat terakhir dari pendakian kami karena kabut tebal mulai muncul. Kami memutuskan untuk turun kembali dan menuju tempat pertama saat kita start pendakian, yaitu camp david. Rute yang kami lewati saat turun tidak mengalami perubahan, sama seperti saat kami naik. 

11.45 WIB

Kami sampai di camp david dan segera menuju mobil untuk menyimpan barang bawaan, karena rasanya badan ini udah tidak sanggup lagi untuk membawanya. Setelah istirahat beberapa menit di kantin, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang ke Sumedang.


Sampai disini dulu perjalanan kami. Terima kasih buat semua bloger yang telah menyimak cerita saya ini, semoga cerita perjalanan saya ini bisa dijadikan referensi buat pendaki lainnya. 

Sampai ketemu lagi di pendakian saya selanjutnya.

Thanks To :
  • Allah SWT.
  • Teman baru saya, Veni, Ani dan dua teman cowonya.
  • Gunung Papandayan, yang telah mengajarkan saya untuk bertahan hidup di alam.
 
Catatan :
  • Jaga kelestarian alam Gunung Papandayan,
  • Bawa SAMPAH turun kembali,
  • Jangan berbuat Vandal biarkan alam Papandayan tetap terjaga,
  • Jangan menebang pohon hanya untuk api unggun (kalau mau hangat jangan ke gunung, kepantai aja sana!!),
  • Jangan membuka lahan untuk mendirikan tenda. (Pondok Salada berubah drastis, banyak spot yang dulunya pepohonan kini sudah rata tanah),
  • Pendaki gunung harus saling menghargai dengan pendaki lain atau alam sekitarnya. Jangan berteriak-teriak di malam hari (menggangu pendaki yang beristirahat dan binatang-binatang yang ada disana).
- See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2014/11/pendakian-gunung-papandayan-2014.html#sthash.M0PMsU8Q.dpuf
 
Catatan :
  • Jaga kelestarian alam Gunung Papandayan,
  • Bawa SAMPAH turun kembali,
  • Jangan berbuat Vandal biarkan alam Papandayan tetap terjaga,
  • Jangan menebang pohon hanya untuk api unggun (kalau mau hangat jangan ke gunung, kepantai aja sana!!),
  • Jangan membuka lahan untuk mendirikan tenda. (Pondok Salada berubah drastis, banyak spot yang dulunya pepohonan kini sudah rata tanah),
  • Pendaki gunung harus saling menghargai dengan pendaki lain atau alam sekitarnya. Jangan berteriak-teriak di malam hari (menggangu pendaki yang beristirahat dan binatang-binatang yang ada disana).
Catatan :
  • Jaga kelestarian alam Gunung Papandayan,
  • Bawa SAMPAH turun kembali,
  • Jangan berbuat Vandal biarkan alam Papandayan tetap terjaga,
  • Jangan menebang pohon hanya untuk api unggun (kalau mau hangat jangan ke gunung, kepantai aja sana!!),
  • Jangan membuka lahan untuk mendirikan tenda. (Pondok Salada berubah drastis, banyak spot yang dulunya pepohonan kini sudah rata tanah),
  • Pendaki gunung harus saling menghargai dengan pendaki lain atau alam sekitarnya. Jangan berteriak-teriak di malam hari (menggangu pendaki yang beristirahat dan binatang-binatang yang ada disana).
- See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2014/11/pendakian-gunung-papandayan-2014.html#sthash.M0PMsU8Q.dpuf
Catatan :
  • Jaga kelestarian alam Gunung Papandayan,
  • Bawa SAMPAH turun kembali,
  • Jangan berbuat Vandal biarkan alam Papandayan tetap terjaga,
  • Jangan menebang pohon hanya untuk api unggun (kalau mau hangat jangan ke gunung, kepantai aja sana!!),
  • Jangan membuka lahan untuk mendirikan tenda. (Pondok Salada berubah drastis, banyak spot yang dulunya pepohonan kini sudah rata tanah),
  • Pendaki gunung harus saling menghargai dengan pendaki lain atau alam sekitarnya. Jangan berteriak-teriak di malam hari (menggangu pendaki yang beristirahat dan binatang-binatang yang ada disana).
- See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2014/11/pendakian-gunung-papandayan-2014.html#sthash.M0PMsU8Q.dpuf